Translate :
 
 
Cari yang lainnya disini :
 

Keaneka ragaman Arthropoda pada Anggrek ( Orchidaceae )

STUDI KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PADA PERTANAMAN ANGGREK (Orchidaceae) DENGAN KETINGGIAN TEMPAT BERBEDA

Anggrek adalah nama umum untuk semua tumbuhan famili Orchidaceae. Famili ini merupakan salah satu grup terbesar diantara tumbuhan berbunga. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 15.000 – 20.000 spesies anggrek dengan 900 genus (marga) yang menghuni rimba belantara dan tersebar di 750 negara. Kurang lebih 5.000 spesies diantaranya tersebar di Indonesia. Menurut para ahli botani, di dunia terdapat lebih dari 30.000 spesies tanaman anggrek yang mencakup 660 genera, dengan 75.000 anggrek hibrida terdaftar. Adapun potensi plasma nutfah tanaman anggrek di Indonesia diperkirakan lebih dari 5.000 jenis. Keanekaragaman jenis anggrek yang tertinggi memberikan kemungkinan bagi pengembangan aneka jenis anggrek , baik sebagai bunga potong maupun sebagai tanaman hias berbunga. Berdasarkan data yang telah ada serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman hias memang perlu diperhatikan dengan serius. Hal itu karena, kerusakan yang ditimbulkan mulai dari luka gerekan di batang hingga kerusakan total pada tanaman sebelum panen dapat menurunkan nilai ekonomis tanaman tersebut. Secara lebih luas, bisa berdampak pada menurunnya populasi anggrek nasional.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman arthropoda serta peran dari arthropoda yang berasosiasi dengan tanaman anggrek. Penelitian ini dilaksanakan di di tiga kebun anggrek yaitu Kusuma Orchid, Soerjanto Orchid I dan Soerjanto Orchid II.Mulai bulan Agustus 2006 sampai dengan bulan September 2007. Hasil penelitian menunjukkan, struktur komunitas arthropoda pada ekosistem di ketiga kebun anggrek sama, yaitu terdiri dari herbivora, predator, parasitoid dan detrivora. Komposisi dan
jumlah keanekaragaman arthropoda pada kebun anggrek Soerjanto Orchid II lebih tinggi dibandingkan kebun anggrek Soerjanto Orchid I dan Kebun anggrek Kusuma Orchid.
Pola fluktuasi arthropoda diketiga kebun anggrek diperoleh populasi yang meningkat pada pengamatan kedua dan kelima di setiap blok umur pertanaman anggrek. Jenis seluruh arthropoda (S) kebun anggrek Soerjanto Orchid II (57 jenis) lebih tinggi dibandingkan kebun anggrek Soerjanto Orchid I (52 jenis) dan Kusuma Orchid (45 jenis), jumlah seluruh arthropoda (N) pada kebun anggrek Soerjanto Orchid II (2512 individu) lebih tinggi dibandingkan dengan kebun anggrek Soerjanto Orchid I (2369 individu) dan Kusuma Orchid (1263 individu). Tingkat kemerataan (E) pada kebun Soerjanto Orchid I 0,716, Kusuma Orchid 331,7 dan kebun Soerjanto Orchid II 0,761, menunjukkan bahwa kemerataan relatif rendah. Indeks keanekaragaman (H’) pada ketiga kebun anggrek setelah dilakukan uji statistik menyatakan berbeda nyata dengan nilai indeks di tiap kebun, yaitu Soerjanto Orchid I (0,054), Soerjanto Orchid II (0,054) dan Kusuma Orchid (0,068). Kekayaan jenis (R) di kebun anggrek Soerjanto Orchid II 7,153 lebih tinggi
dibandingkan kebun anggrek Soerjanto Orchid I 6,563 dan Kusuma Orchid 6,161 karena jenis arthropoda yang ada lebih banyak. Hasil analisis usaha tani, menunjukkan bahwa budidaya pada tiap tahapan umur tanaman anggrek sama menguntungkannya.







Prosiding Simposium Bioteknologi dan pengendalian hama terpadu

Pada postingan kali ini kami menampilkan Prosiding Simposium Revitalisasi Penerapan PHT dalam Praktek Pertanian yang Baik Menuju Sistem Pertanian yang Berkelanjutan tentang Bioteknologi dan pengendalian hama terpadu.  Informasi lebih lanjut dapat dilihat secara langsung pada artikel ini dengan format PDF. Kami merasa yakin bahwa artikel artikel hasil penelitian tersebut bisa memberikan tambahan pengetahuan tentang pengendalian hama terpadu.
Sekilas kami ulas beberapa hasil penelitian pada bagian bawah artikel ini.









INVENTARISASI DAN DOMINASI SERANGGA HAMA PADA TANAMAN JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.)

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif di Indonesia. Oleh karena itu setiap faktor yang mempengaruhi tingkat produksinya harus diperhatikan. Salah satu faktor tersebut adalah adanya serangan serangga hama. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi serangga hama yang terdapat pada pertanaman jarak pagar di PT. Rajawali Nusantara Indonesia Jatitujuh Majalengka. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, pengamatan utama dilakukan secara langsung pada tanaman sampel dan pemasangan perangkap cahaya serta perangkap warna kuning. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangga hama yang terdapat pada tanaman jarak pagar yang tergolong ordo Hemiptera adalah: Alydus sp. (Alydidae), kepik Leptoglossus sp (Coreidae), kepik prisai Chrysocoris javanus
(Pentatomidae), kepik hijau Nezara sp. (Pentatomidae), Lygaeus (Lygaeidae) kutu putih Ferrisia virgata Ckll. (Homoptera: Pseudococidae) dan belalang kayu Valanga nigrcicornis Burm. (Orthoptera: Acrididae). Hama yang paling dominan yang terdapat pada tanaman jarak pagar adalah kutu putih Ferrisia virgata Ckll. dengan intensitas serangan sebesar 45,88%. Predator yang ditemukan di pertanaman jarak pagar yaitu sayap jala Chrysopa (Neuroptera: Chysopidae), belalang sembah Stagmomantis carolina L. (Orthoptera: Mantidae) dan Kumbang kubah Coccinella sp (Coleoptera: Coccinellidae).

DIVERSITAS SERANGGA HAMA DAN SERANGGA MUSUH ALAMI PADA PERTANAMAN TEH (Camelia sinensis L.) SISTEM ORGANIK DAN KONVENSIONAL DI PERKEBUNAN TEH RANCABOLANG PTPN VIII

Manipulasi agroekosistem merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi diversitas serangga dalam agroekosistem. Salah satu metode yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi groekosistem antara lain adalah penerapan sistem bercocok tanam. Sistem pertanian organik adalah sistem bercocok tanam ramah lingkungan yang selain mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan kriteria safety food, juga dipercayai dapat mengurangi populasi hama dan meningkatkan
populasi musuh alami.
Penelitian untuk mengetahui diversitas serangga hama dan serangga musuh alami telah dilakukan pada areal pertanaman teh sistem organik dan sistem konvensional Perkebunan Teh Rancabolang PTPN VIII Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung selama bulan Juni dan Juli 2006. Pengamatan dilakukan terhadap kepadatan populasi relatif pada petak sampel dengan menggunakan perangkap kuning, jaring (lima kali ayunan), dan penghitungan langsung pada tanaman sampel. Petak sampel yang digunakan, masing-masing berukuran 40 m x 25 m, dengan jarak antar petak sampel 1,0 km. Pengamatan dilakukan sebanyak delapan kali dengan interval pengamatan satu minggu sekali.
Hasil analisis terhadap data yang diperoleh menunjukkan bahwa indeks diversitas serangga, baik erangga hama maupun serangga musuh alami pada pertanaman teh sistem organik lebih tinggi dibandingkan dengan indeks diversitas dari serangga hama dan serangga musuh alami pada pertanaman teh sistem konvensional.

PENGARUH PEMANDULAN DAN PENGIRIMAN TERHADAP MUTU KEPOMPONG MANDUL LALAT BUAH Bactrocera carambolae (DREW & HANCOCK)
(DIPTERA: TEPHRITIDAE) PENGARUH PENGIRIMAN TERHADAP MUTU KEPOMPONG MANDUL LALAT BUAH

Bactrocera carambolae (DREW & HANCOCK) (DIPTERA: TEPHRITIDAE). Dalam program pengendalian lalat buah dengan Teknik Serangga Mandul (TSM), kepompong lalat buah diradiasi agar mandul, kemudian dikirim ke kebun untuk dilepas. Untuk mengetahui apakah terjadi perubahan mutu kepompong akibat perlakuan tersebut, maka sebelum dan sesudah mendapat perlakuan radiasi gamma, mutu kepompong, dan sterilitas lalat jantannya diamati Perlakuan iradiasi dilakukan dengan dosis 0, 30, 50, 70, 90, 110, dan 130 Gy. Sterilitas lalat diamati dengan menghitung persentase jumlah telur yang menetas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi 90 Gy dapat digunakan untuk dosis pemandulan. Pada dosis tersebut kemandulan lalat hampir mencapai 100% dan penurunan jumlah lalat terbang masih dapat ditoleransi.
Sebelum diangkut, kepompong mandul dikemas dalam kantong plastik dan dimasukkan dalam kotak styrofoam disusun berselang-seling dengan botol berisi es, dan sebuah termometer minimum-maksimum diletakkan dalam kotak sebelum ditutup rapat. Kemasan diangkut dengan kendaraan umum selama ± 20 jam pengiriman. Mutu kepompong diamati sebelum dan sesudah kepompong mandul dikemas dan diangkut, dengan menghitung persentase lalat terbang yang muncul dari kepompong Hasil pengamatan menunjukkan bahwa prosedur pengemasan dan pengiriman selama 20 jam ini tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah lalat yang muncul dan yang mampu terbang yaitu 69.25% ± 2.22 dan 69.00% ± 2.16 sebelum pengangkutan dan
63.25% ± 4.65, serta 61.25% ± 5.44 sesudah pengangkutan. Metode pengemasan dan pengangkutan ini dapat digunakan untuk pelaksanaan TSM lalat buah di lap

FLUKTUASI POPULASI KEPINDING TANAH  DI SUKAMANDI, SUBANG

Lembing batu atau kepinding tanah (Scotinophara coarctata F; Pentatomidae; Heteroptera) merupakan salah satu serangga yang terdapat pada ekosistim padi di Indonesia. Di Sukamandi sampai tahun 1980, populasi kepinding tanah tinggi. Populasi kepinding tanah terus dipantau dengan perangkap basah dilengkapi lampu listrik 25 watt sebagai penarik. Hasil tangkapan dari pertengahan tahun 2004 sampai
tahun 2006 dan hubungannya dengan keberadaannya di lapangan disampaikan dalam tulisan ini. Populasi kepinding tanah pada tahun 2004 rendah dibandingkan dengan dua tahun terakhir, tangkapan yang tinggi hanya terjadi pada bulan Mei. Pada tahun 2005, tangkapan yang tinggi dimulai pada bulan Maret kemudian bulan Mei sampai Oktober. Selanjutnya pada tahun 2006 tangkapan merata tiap bulan. Jika dilihat populasi pada tanaman dengan waktu tanam berbeda, dan pertanaman musim kemarau populasinya sudah tinggi mulai dari 3 minggu setelah tanam. Pada tanaman serempak dengan petani, populasi tinggi terjadi pada 7 minggu setelah tanam, sedangkan pada tanaman yang terlambat 14 hari menunjukkan keberadaan kepinding yang selalu rendah.

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DAN SERANGGA DALAM MENDUKUNG BUDIDAYA TANAMAN PADI DAN SAYURAN DI LAHAN PASANG SURUT

Di lahan rawa pasang surut sangat kaya akan keanekaragaman hayati terutama jenis tumbuhan dan serangga berguna/musuh alami. Telah diidentifikasi beberapa jenis tumbuhan di lahan rawa pasang surut sebanyak 181 genera dalam 51 famili, terdiri dari golongan berdaun lebar 110 spesies, golongan rumput-rumputan 40 spesies dan golongan teki 31 spesies. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tumbuhan Eleocharis dulcis, Scirpus grossus, Lepironea articulata, Phgmites karka dan Stenochlaena palutris berpotensi sebagai tanaman perangkap penggerek batang padi dan habitat musuh alami. Ditemukan 62 jenis musuh alami yang terdiri dari ordo Arachnida, Coleoptera, Diptera, Odonata, Orthoptera dan Hymenoptera. Tumbuhan galam, tumbuhan mercon, rumput ribu-ribu berpotensi sebagai insektisida nabati dan tumbuhan gulinggang berpotensi sebagai fungisida batai. Dengan demikian jenis tumbuhan tersebut perlu dikonaservasi keberadaanya agar populasi musuh alami dapat berkembang sehingga populasi hamanya terkendali.

PENETAPAN AMBANG EKONOMI GANDA HAMA DAN PENYAKIT PADA VARIETAS PADI BERBEDA UMUR MASAK DI PERTANAMAN

Peningkatan produksi padi sangat ditentukan oleh perkembangan hama dan penyakit pada pertanaman. Hama dan Penyakit yang banyak menyerang tanaman padi saat ini adalah wereng coklat, penggerek batang, hama pelipat daun, hama penggulung daun, ulat gerayak, penyakit Cercospora, Blast, virus kerdil rumput, dan virus kerdil hampa. Penelitian dilakukan pada musim kemarau tahun 2000 di Jawa Barat (Subang) dan di Jawa Tengah (Sukohardjo-Solo). Subang merupakan daerah double dangerous
pests area (DDPA) dari hama wereng coklat dan penggerek, sedangkan Sukohardjosolo merupakan daerah DDPA tungro dan wereng coklat. Di dua tempat tersebut di atas di tanam varietas Way Apo Buru berumur pendek yang tahan wereng coklat dan Muncul berumur panjang yang rentan wereng coklat masing-masing seluas 0.4 ha. Pada empat plot kecil masing-masing seluas 0.1 ha dibagi dua yaitu dua bagian ditanami varietas Muncul dengan masing-masing bagian diaplikasi dengan Fipronil dan BPMC. Dua bagian lagi ditanami varietas Way Apo Buru dengan masing-masing bagian diaplikasi dengan Fipronil dan BPMC. Luas pertanaman keseluruhan adalah 1.2 ha.
Jarak tanam adalah 25 cm x 25 cm. Tanaman dipupuk dengan 250 kg/ha Urea, 100 kg/ha TSP, dan 50 kg/ha KCl. Selama pertumbuhan tanaman sampai menjelang panen tidak diaplikasi dengan pestisida. Pengamatan pada 200 rumpun arah diagonal silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wereng coklat dan wereng punggung putih pada varietas Muncul fase vegetatif dapat menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.12205 g/rumpun per unit kenaikan populasi wereng coklat dan sebesar 0.08012 g/rumpun per unit kenaikan populasi wereng punggung putih. Wereng coklat dan wereng punggung putih pada varietas Muncul fase reproduktif dapat menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.0646 g/rumpun per unit kenaikan populasi wereng coklat dan sebesar 0.05511 g/rumpun per unit kenaikan populasi wereng punggung putih. Sundep dan ulat gerayak pada varietas Way Apo buru fase reproduktif dapat menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.16762 g/rumpun per unit kenaikan % sundep dan sebesar 0.09698 g/rumpun per unit kenaikan kerusakan daun akibat ulat gerayak. Sundep dan Hydrellia pada varietas Muncul fase vegetatif dapat menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.25227 g/rumpun per unit kenaikan % sundep dan sebesar 0.07403 g/rumpun per unit kenaikan kerusakan daun akibat Hydrellia.
Sundep dan pelipat daun pada varietas Way Apo Buru fase vegetatif dapat menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.1735 g/rumpun per unit kenaikan % sundep dan sebesar 0.11963 g/rumpun per unit kenaikan kerusakan daun akibat pelipat daun. Penyakit sheath blight dan hawar daun jingga pada varietas Way Apo Buru fase pemasakan buah menurunkan hasil masing-masing sebesar 0.10195 dan
0.11656 g/rumpun per unit kenaikan % kerusakan. Penyakit stem rot dan sheath blight pada varietas Muncul fase reproduktif menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.24042 dan 0.07292 g/rumpun per unit kenaikan % kerusakan. Penyakit stem rot dan sheath blight pada varietas Muncul fase pemasakan buah menurunkan hasil berturut-turut sebesar 0.18536 dan 0.07737 g/rumpun per unit kenaikan %
kerusakan. Pada varietas Muncul fase vegetatif ambang ekonomi ganda (AEG) wereng coklat-wereng punggung mengikuti pola 9-0-14. Pada varietas Muncul fase reproduktif AEG wereng coklat-wereng punggung mengikuti pola 18-0-21. Pada varietas Way Apo Buru fase reproduktif AEG Sundep-Ulat gerayak mengikuti pola 9-0-15. Pada varietas Muncul fase vegetatif AEG Sundep-Hydrellia mengikuti pola 6-0-19. Pada varietas Way Apo Buru fase vegetatif AEG Sundep-pelipat daun mengikuti pola 9-0-13. Pada varietas Way Apo Buru fase pemasakan buah, AEG sheath blight –hawar daun jingga mengikuti pola 15-0-9. Pada varietas Muncul fase reproduktif, AEG stem rot-sheath blight mengikuti pola 6-0-19. Pada varietas Muncul fase pemasakan buah, AEG stem rot-sheath blight mengikuti pola 8-0-18.

KELAYAKAN TEKNIS DAN EKONOMIS PENERAPAN TEKNOLOGI PHT UNTUK MENGENDALIKAN TRIPS PADA TANAMAN PAPRIKA
DI RUMAH PLASTIK

Penelitian untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis rakitan teknologi PHT pada tanaman paprika telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2006 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpal). Sebelum dilakukan pengujian lapangan terlebih dahulu dilakukan survai terhadap 20 orang petani paprika di Jawa Barat untuk mengetahui teknologi yang digunakan oleh petani, yang akan diuji sebagai perlakuan konvensional. Pada percobaan ini digunakan petak berpasangan. Perlakuan yang diuji adalah rakitan teknologi PHT dan teknologi konvensional. Tiap
perlakuan diulang empat kali dan tiap petak perlakuan terdiri atas 200 tanaman. Komponen teknologi PHT yang digunakan adalah pelepasan predator Menochilus sexmaculatus (1 x/ minggu; 1 ekor/ tanaman), penyemprotan Verticillium lecanii (1 x/ minggu), pemasangan perangkap lekat warna biru dan kuning, dan penggunaan pestisida yang efektif (Spinosad dan Abamektin) berdasarkan ambang pengendalian.
Pada perlakuan konvensional teknologi yang digunakan adalah penyemprotan campuran 2 jenis insektisida dan 1 jenis fungisida (1 x/ minggu). Hasil percobaan menunjukkan bahwa : (1) penerapan rakitan komponen teknologi PHT, yaitu pelepasan predator M. sexmaculatus, penyemprotan V. lecanii dan pemasangan perangkap lekat mampu mempertahankan populasi trips di bawah ambang pengendalian sampai 7 MST, (2) penggunaan ambang pengendalian sebagai dasar keputusan pengendalian trips dapat mengurangi frekuensi penggunaan insektisida dan fungisida masing-masing sebesar 61 dan 82,6%, (3) penerapan rakitan teknologi PHT dapat menekan residu pestisida pada buah paprika di bawah batas maksimum residu yang telah ditetapkan, (4) penerapan teknologi PHT mampu mempertahankan hasil panen setara dengan hasil pada perlakuan konvensional, (5) penerapan rakitan teknologi PHT mampu menekan biaya pengendalian OPT, (6) rakitan teknologi PHT pada tanaman paprika secara teknis dapat dilakukan dan (7) secara ekonomis dapat memberikan tambahan keuntungan dibandingkan dengan teknologi konvensional.


DATABASE SERANGGA DAN KETELITIAN IDENTIFIKASI, SOLUSI DASAR PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)

Salah satu komponen penting dalam pengembangan digitalisasi sistem manajemen database serangga adalah ilmu biotaksonomi. Revolusi bio-informasi yang menghadirkan teknologi komputer dan internet, telah memfasilitasi penyimpanan dan penelusuran (retrival) data dengan cepat. Pada saat ini data-data di Koleksi Referensi Spesimen Serangga (KRSS) pertanian di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (B.B.BIOGEN) Bogor dalam proses komputerisasi
dengan program Bio-Link. Program Bio-Link merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk mempermudah digitalisasi informasi taksa dalam mengelola data kesehatan tanaman. Pemanfaatan dan pengembangan program dengan sistem ini diharapkan dapat merealisasi pengembangan database kesehatan tanaman di
Indonesia. Keberadaan KRSS pertanian berawal dari koleksi spesimen bukti (voucher) penelitian biotaksonomi pada zaman kolonial Belanda, pada dasarnya untuk mencari solusi masalah pengendalian hama tanaman. Identifikasi dengan benar memerlukan pengetahuan dasar biotaksonomi dan merupakan solusi dasar manajemen PHT. Rendahnya kemampuan SDM dalam pengetahuan dasar biotaksonomi mengakibatkan kendala utama dalam diagnostik dan identifikasi serangga secara benar dan akurat.
Tulisan ini membahas database serangga dengan program Bio-Link dan memperkenalkan pengembangan sistem teknologi identifikasi melalui internet (webbased diagnostik key) khususnya untuk jenis-jenis wereng daun dan wereng batang. Diharapkan dengan teknologi internet, kemampuan SDM dalam diagnostik hama dapat ditingkatkan.

PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) UNTUK TEKNOLOGI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGENDALIAN HAMA
PENGGEREK BATANG PADI DI LAHAN PASANG SURUT

Penggerek batang padi merupakan salah satu hama penting padi di lahan pasang surut. Hama ini dapat menyerang pertanaman padi sejak semai hingga menjelang panen. Intensitas kerusakan yang diakibatkan oleh hama untuk lahan pasang surut berkisar antara 25%-75% pada daerah yang tidak dikendalikan. Dari hasil observasi di lapangan diketahui ada beberapa cara pengendalian penggerek batang padi yang telah lama dilakukan petani. Cara-cara tersebut berpotensi untuk dikembangkan seperti cara tanam (tanam pindah atau ampan-lacak-tanam), dengan cara ini dapat mengurangi intensitas kerusakan tanaman padi oleh serangan penggerek batang. Penggunaan bahan amelioran (abu sekam), dengan abu sekam ini serangan penggerek batang padi dapat ditekan yaitu intensitas kerusakan hanya mencapai 10%. Penggunaan tumbuhan mercon sebagai bahan pengasapan untuk mengusir hamahama padi. Penggunaan tumbuhan ribu-ribu, yaitu dengan cara menaburkan dipetakan pertanaman yang fungsinya juga sebagai pengusir hama penggerek batang.

Kata kunci yang tepat adalah : inventarisasi, serangga, tanaman Jarak, Jatropha curcas, Diversitas, serangga hama, musuh alami, sistem konvensional, sistem organik, teh, lalat buah, TSM, iradiasi, pengiriman, mutu kepompong, Kelayakan teknis; Kelayakan ekonomis, PHT, Trips, Paprika, dan Rumah
plastik,

Entomologi

Seputar Entomologi
Secara terbatas, Entomologi adalah ilmu yang mempelajari serangga. Akan tetapi, arti ini seringkali diperluas untuk mencakup ilmu yang mempelajari artropoda (hewan beruas-ruas) lainnya, khususnya laba-laba dan kerabatnya (Arachnida atau Arachnoidea), serta luwing dan kerabatnya (Millepoda dan Centipoda).
Istilah ini berasal dari dua perkataan Latin - entomon bermakna serangga dan logos bermakna ilmu pengetahuan.

Ilmu entomologi adalah ilmu yang mempelajari tentang morfologi, fisiologi, dasar-dasar tingkah laku serangga, tingkah laku serangga sosial serangga entomofaga dan patogen serangga. hubungan serangga dengan tanaman budidaya, serangga dan lingkungannya, serta Insektisida.
Dengan mempelajari entomologi maka diharapkan mampu memahami tentang struktur morfologi dan anatomi, fisiologi serangga, dasar-dasar tingkah laku, dan tingkah laku serangga sosial, serangga entomofaga dan patogen serangga, hubungan serangga dengan tanaman budidaya Serangga dengan lingkungannya, dan Insektisida.

Pada postingan ini kami akan menampilkan artikel tentang entomologi dalam format PDF. Tidak hanya itu kami juga memberikan informasi tentang petunjuk praktikum tentang Entomologi.

Artikel tentang Entomologi dan teknologi pengendalian serangga hama yang berwawasan lingkungan seperti dibawah ini





Artikel dibawah ini adalah tentang Petunjuk Praktikum Entomologi :



Untuk informasi lebih jelas anda bisa mencari artikel terkait dengan kata kunci : Entomologi, ilmu entomologi, ilmu tentang serangga, ilmu serangga

Seputar Serangga Hama dan Penyakit tanaman

Dari hewan hewan yang dianggap sebagai hama tanaman yang paling besar adalah serangga ( Insek ). sampai pada hari ini telah teridentifikasi serangga hama sekitar 30.000 jenis. Tetapi fakta di lapangan bahwa lebih banyak serangga yang tidak merugikan tanaman, diantaranya ada yang membantu manusia  sebagai musuh alami ( predator, parasitoid ) dari serangga hama; membantu proses pembuahan dan penghancur sampah atau kotoran ( sebagai decomposer ). pada postingan kali ini kami akan menjelaskan tentang serangga  khususnya tentang serangga hama, baik secara anatomi serangga, proses metamorfosis serangga, klasifikasi serangga, bagaimana mengatasi serangga hama, penggunaan pestisida dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dibawah postingan ini.
Tidak hanya serangga hama saja tetapi kami juga menjelaskan tentang penyakit tumbuhan. Silahkan anda baca lebih lanjut. Kami menampilkan dalam format pdf. Selamat belajar.







Untuk lebih jelasnya anda juga bisa mendapatkan informasi tentang serangga hama dan penyakit pada tanaman dengan menggunakan kata kunci sebagai berikut : hama dan penyakit tanaman, penyakit hama, hama penyakit tanaman, hama penyakit tumbuhan, hama dan penyakit tumbuhan, penyakit dan hama tumbuhan, hama tumbuhan dan penyakit tumbuhan, hama dan penyakit pada tanaman, hama dan penyakit pada tumbuhan, pengendalian hama penyakit, hama pada padi, penyakit pada padi, hama yang menyerang tumbuhan, hama penyakit tanaman padi, membasmi hama, pengendalian hama dan penyakit tanaman, hama tanaman cabe, hama dan penyakit tanaman padi, hama pada cabai, hama pada tumbuhan padi, cara membasmi hama, budi daya tanaman tomat, penyakit pada tumbuhan padi, macam-macam hama tumbuhan, hama pada tomat, tana man, hama pada tanaman cabai, hama penyakit tomat, cara mengatasi hama tanaman, artikel hama dan penyakit tanaman, macam macam tanaman buah, hama dan penyakit tanaman jagung, hama dan penyakit pada tanaman padi, hama dan penyakit tanaman cabai, hama dan penyakit tanaman tomat, hama dan penyakit tanaman cabe, hama dan penyakit tanaman kelapa, hama dan penyakit pada tumbuhan padi, hama dan penyakit tanaman sawit, hama dan penyakit tanaman kakao, hama gulma dan penyakit tanaman, penyakit tanaman pepaya, hama buah naga, hama tanaman pepaya, tanaman cabe besar, hama dan penyakit tanaman kopi, hama pada pepaya, hama dan penyakit tanaman mangga, hama dan penyakit tanaman kedelai,


Buku Panduan Hama dan Penyakit Tanaman

Berikut ini adalah buku hama dan penyakit tanaman. Kami memuat berdasarkan google book. Pada postingan ini kami sengaja menyediakan buku panduan tentang hama dan penyakit dalam bentuk format pdf yang bisa langsung anda baca dan pelajari.
Kami memiliki harapan supaya anda bisa menambah wawasan tentang serangga hama dan penyakit penyakit pada tanaman.

Berikut ini adalah buku panduan yang kami maksud








Untuk mendapatkan informasi lebih jelas anda bisa menggunakan kata kunci berikut ini : hama dan penyakit tanaman, penyakit hama, hama penyakit tanaman, hama penyakit tumbuhan, hama dan penyakit tumbuhan, penyakit dan hama tumbuhan, hama tumbuhan dan penyakit tumbuhan, hama dan penyakit pada tanaman, hama dan penyakit pada tumbuhan, pengendalian hama penyakit, hama pada padi, penyakit pada padi, hama yang menyerang tumbuhan, hama penyakit tanaman padi, membasmi hama, pengendalian hama dan penyakit tanaman, hama tanaman cabe, hama dan penyakit tanaman padi, hama pada cabai, hama pada tumbuhan padi, cara membasmi hama, budi daya tanaman tomat, penyakit pada tumbuhan padi, macam-macam hama tumbuhan, hama pada tomat, tana man, hama pada tanaman cabai, hama penyakit tomat, cara mengatasi hama tanaman, artikel hama dan penyakit tanaman, macam macam tanaman buah, hama dan penyakit tanaman jagung, hama dan penyakit pada tanaman padi, hama dan penyakit tanaman cabai, hama dan penyakit tanaman tomat, hama dan penyakit tanaman cabe, hama dan penyakit tanaman kelapa, hama dan penyakit pada tumbuhan padi, hama dan penyakit tanaman sawit, hama dan penyakit tanaman kakao, hama gulma dan penyakit tanaman, penyakit tanaman pepaya, hama buah naga, hama tanaman pepaya, tanaman cabe besar, hama dan penyakit tanaman kopi, hama pada pepaya, hama dan penyakit tanaman mangga, hama dan penyakit tanaman kedelai,

Kunci Determinasi Serangga

Sebagai panduan dalam mengidentifikasi serangga maka bersama ini kami posting informasi terkaid. Kami mengacu pada buku terbitan google books. tetapi tidak semua kami terbitkan.
Artikel ini bisa menjadi referensi dalam melakukan identifikasi serangga. Terdapat kunci determinasi  dan diskripsi beberapa ordo serangga sampai ke tingkat family. Tidak semua ordo dan famili tercantum dalam kunci determinasi ini.
Itilah Taksonomi berasal adari bahasa Yunani yaitu taxis yang berarti susunan dan nomos yang berarti hokum. Jadi secara umum taksonomi penyusunan yang teratur dan bernorma mengenai organisme,-organisme kedalam kelompok-kelompok yang tepat dengan menggunakan nama-nama yang sesuai dan benar.
Identifikasi, deskripsi, pengumpulan data tentangcontoh serangga yang diselidiki, juga pencarian pustaka mengenai serangga tersebut seperti adaptasi, distribusi dalam macam tanaman inang yang termasuk kegiatan sehari-hari yang dilakukan seorang taksonom.
Taksonomi sebagian besar didasarkan atas persamaan cirinya. Serangga dengan cirri yang sama dimasukkan dalam kelompok yang sama, jadi disini melakukan klasifikasi.

Berikut ini adalah kunci determinasi serangga







Untuk memudahkan mencari maka silahkan anda gunakan kata kunci terkait sebagai berikut keyword kunci determinasi serangga
kunci determinasi, kunci dikotomi, pengelolaan hama terpadu, kunci determinasi adalah, kunci dikotomi serangga, kunci determinasi serangga, identifikasi serangga, kunci identifikasi serangga, serangga, jenis serangga, jenis mulut serangga, jenis racun serangga, gambar jenis serangga, jenis serangga perosak, jenis hewan serangga, jenis serangga air, jenis serangga berbisa, jenis serangga penyengat, jenis serangga beracun


Meta Tag

hama dan penyakit, hama dan penyakit pada tanaman, hama dan penyakit pada tumbuhan, hama dan penyakit tanaman, hama dan penyakit tumbuhan, hama penyakit tanaman, hama penyakit tumbuhan, hama pada tumbuhan, hama tanaman, penyakit hama, penyakit pada tumbuhan , penyakit dan hama pada tumbuhan